Drone Thermal UPR-BNF Deteksi Titik Panas di Lahan Gambut Pascakebakaran

Drone Thermal UPR-BNF Deteksi Titik Panas di Lahan Gambut Pascakebakaran
Universitas Palangka Raya (UPR) memperkuat sistem pemantauan kebakaran gambut dengan memanfaatkan drone thermal. Foto Ist

PALANGKA RAYA– Universitas Palangka Raya (UPR) memperkuat sistem pemantauan kebakaran gambut dengan memanfaatkan drone thermal hasil kerja sama bersama Borneo Nature Foundation (BNF). Teknologi ini digunakan untuk mendeteksi sumber panas yang masih bertahan di bawah permukaan lahan, meski api di permukaan sudah padam.

Kebakaran gambut memiliki karakter berbeda dengan kebakaran lahan mineral. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga dapat membara dan merambat perlahan di dalam lapisan gambut. Karena itu, kondisi yang terlihat aman belum tentu benar-benar bebas dari potensi kebakaran ulang.

Melalui kamera thermal yang dipasang pada drone, tim dapat memetakan sebaran suhu dari udara. Area yang menunjukkan anomali panas kemudian ditandai sebagai lokasi prioritas untuk diverifikasi dan ditangani lebih lanjut di lapangan.

“Teknologi ini menjadi bagian dari pemadaman lanjutan dan verifikasi pascakebakaran. Tujuannya agar penanganan bisa lebih cepat, terarah, dan efisien,” jelas Dr. Ir. Adi Jaya, M.Si, IPU, ASEAN Eng, Kepala UPA Pengelolaan Lahan Gambut-CIMTROP UPR.

Adi Jaya menegaskan, data thermal tidak menggantikan pemeriksaan langsung. Drone hanya berfungsi sebagai petunjuk awal. Verifikasi tetap dilakukan di darat menggunakan sensor termal untuk memastikan apakah titik panas masih aktif atau sudah aman.

“Drone membantu melihat pola panas dari udara. Sensor di darat memastikan kondisi titik yang dicurigai. Informasi ini penting untuk menentukan apakah lokasi perlu pendinginan lanjutan,” ujarnya, Minggu (6/9/2026).

Kerja sama UPR melalui CIMTROP dan BNF telah berjalan cukup panjang. Fokusnya adalah menggabungkan inovasi teknologi dengan pengetahuan ekosistem gambut dan pengalaman lapangan.

Simon Husson, Ketua Pembina BNF sekaligus CEO BNF International, menyebut kolaborasi ini strategis.
“Teknologi harus menjawab persoalan nyata. Mendeteksi sumber panas lebih cepat akan membantu tim menentukan lokasi yang perlu ditangani. Tapi manfaatnya paling besar jika dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan kolaborasi kuat,” katanya.

Hal senada disampaikan CEO BNF Indonesia Anton Nurcahyo, Ph.D. Menurutnya, penggunaan drone thermal bukan hanya soal perangkat, tetapi juga soal penguatan kapasitas dan pertukaran pengetahuan.
“Informasi thermal dari udara membantu tim menentukan area yang perlu segera diperiksa. Respons terhadap kebakaran jadi bisa lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Anton menambahkan, pengalaman ini dapat menjadi dasar penyusunan protokol pemantauan, pelatihan operator, serta pemanfaatan data thermal untuk pencegahan dan evaluasi pascakebakaran.

Bagi UPR, pemanfaatan drone thermal adalah langkah menuju penanganan kebakaran gambut yang berbasis data dan pencegahan. Ke depan, hasil pemetaan thermal akan diintegrasikan ke dalam basis data spasial bersama data hidrologi, kelembapan, dan riwayat kebakaran.

Rektor UPR Prof. Dr. Salampak Dohong, MS, IPU, ASEAN Eng menegaskan peran kampus dalam menjawab persoalan lingkungan.

“Kebakaran gambut itu khas. Api bisa tidak terlihat tapi masih membakar di bawah. Kita butuh teknologi untuk melihat apa yang tidak bisa kita lihat langsung. UPR punya tanggung jawab mengembangkan pengetahuan ini agar bermanfaat luas bagi Kalimantan,” ucapnya.

Dengan sistem verifikasi berlapis udara dan darat, UPR dan BNF berharap risiko kebakaran gambut berulang dapat ditekan.

“Intinya satu: kita harus deteksi lebih cepat, pahami lebih baik, dan bertindak sebelum api kembali membesar,” tutup Salampak. (Ark)

Tinggalkan Balasan