Jekan Raya Zona Merah Karhutla, Kualitas Udara Palangka Raya Sangat Tidak Sehat
PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya belum mereda. BPBD mencatat 443 kejadian karhutla dengan total luasan lahan lterbakar 499,91 hektare sejak status siaga darurat diberlakukan 1 Juni 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Palangka Raya Heri Fauzi mengatakan, ratusan kejadian itu tersebar di hampir seluruh kecamatan.
“Berdasarkan data BPBD Kota Palangka Raya, Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak, yakni 300 kejadian,” ungkapnya, Sabtu (5/9/2026).
Adapun rinciannya: Kecamatan Sebangau 90 kejadian, Pahandut 37 kejadian, Bukit Batu 14 kejadian, dan Rakumpit 1 kejadian.
Heri menyebut cuaca kering menjadi pemicu utama. Berkurangnya curah hujan membuat kondisi lahan semakin mudah terbakar.
Terlepas dari itu BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Warga juga diminta segera melapor jika menemukan titik api.
“Untuk laporan kejadian karhutla maupun kondisi darurat lainnya, masyarakat dapat menghubungi Call Center 112,” sebut Heri.
Senada, Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Renianata menyampaikan hingga kini belum terpantau hujan di sebagian besar wilayah Kalteng.
Potensi hujan ringan lokal baru diperkirakan terjadi 3-4 September di Kalteng bagian utara, 5-6 September di utara dan timur, serta 7-8 September di sebagian besar wilayah Kalteng.
Data BMKG pukul 12.00 WIB mencatat kecepatan angin 5,6 km/jam dengan kelembapan 43 persen. Sementara kualitas udara pukul 11.00 WIB berada di angka 164,9 µg/m³ atau kategori sangat tidak sehat. Jarak pandang maksimal hanya 4 km. (Lew)

