MGN Kotim Tampil Atraktif di Panggung Pesparawi XIV

MGN Kotim Tampil Atraktif di Panggung Pesparawi XIV
Tim Musik Gereja Nusantara (MGN) Kabupaten Kotawaringin Timur berfoto bersama usai tampil pada Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV, Sabtu (27/6/2026), di Aula Utama Universitas Papua, Manokwari, Papua Barat.

MANOKWARI – Kontingen Kalimantan Tengah tampil atrakti lewat Musik Gereja Nusantara (MGN) Kabupaten Kotawaringin Timur pada Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV, Sabtu (27/6/2026) di Aula Utama Universitas Papua, Manokwari, Papua Barat.

Penampilan MGN Kotim mengusung aransemen pujian rohani yang dipadukan dengan alat musik tradisional Dayak. Kecapi, gendang dan suling menjadi pengiring utama, diperkuat dengan balutan pakaian serta gaya stylish tim khas Dayak, sehingga menciptakan harmoni kental nuansa khas Borneo.

Kolaborasi musik dan gerak tari pengiring sekaligus penyanyi membuat suasana panggung terasa sakral sekaligus membumi. Penonton terlihat terpukau menyaksikan bagaimana identitas budaya Dayak dibawakan dalam balutan pujian rohani.

Penampilan kontingen Kalteng langsung menuai apresiasi meriah. Tepuk tangan menggema begitu lagu terakhir selesai dibawakan. Para penonton tampak kagum dengan kekompakan vokal dan musikalitas Tim MGN Kotim.

Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kalteng, Guntur Talajan, mengapresiasi kerja Tim MGN Kotim.

“Aransemen sejalan dengan budaya lokal. Roh pujiannya tetap fokus diperkuat, sehingga rasa kolaborasi budaya tetap di dapat,” ujarnya usai menyaksikan penampilan Tim MGN Kotim.

Menurut Guntur, MGN memang dirancang untuk merawat akar budaya dalam musikalitas nilai nilai pujian. “Saya rasa dalam penampilan Tim MGN Kotim tadi, telah sangat kuat secara musikal dan spiritual. Ini bukti musik gereja bisa berakar pada identitas budaya daerah,” katanya.

Perlu diketahui sebut Guntur, semua tim dari berbagai kategori yang ada pada kontingen Pesparawi Kalteng, termasuk kategori MGN Kotim, telah mempersiapkan aransemen selama berbulan-bulan.

“Seperti Tim MGN Kotim ini, tentu latihan intensif dilakukan untuk menyatukan teknik vokal, dinamika alat musik etnik, dan ekspresi panggung tanpa kehilangan kekhasan Kalimantan Tengah,” sebutnya.

Penampilan MGN Kotim ini ucap Guntur, setidaknya menegaskan pesan dalam setiap perhelatan Pesparawi bahwa pujian tidak harus seragam.

“Ketika tradisi Dayak berjumpa dengan roh gerejawi, musik menjadi jembatan yang menyatukan iman, budaya dan kebanggaan daerah di panggung nasional,” pungkasnya. (*/Ark)

Tinggalkan Balasan