Dari Posko Pemadam ke Pusat Rehabilitasi, Forsiladi Kalteng Salurkan Bantuan

Dari Posko Pemadam ke Pusat Rehabilitasi, Forsiladi Kalteng Salurkan Bantuan
Pengurus Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (Forsiladi) Kalimantan Tengah menyerahkan bantuan sembako kepada Relawan Siaga Karhutla Kalteng Non-ASN sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan. (ist)

Palangka Raya – Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (Forsiladi) Kalimantan Tengah menyalurkan bantuan logistik kepada relawan pemadam kebakaran dan mendukung perawatan orangutan di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng.

Aksi kemanusiaan yang berlangsung pada 8–9 Oktober 2026 itu menyasar dua kelompok yang terdampak langsung oleh kebakaran hutan dan lahan, yakni para relawan yang berjibaku memadamkan api serta satwa liar yang terancam kehilangan habitatnya.

Bantuan pertama diserahkan kepada Relawan Siaga Karhutla Kalimantan Tengah Non-ASN di posko induk relawan. Paket sembako yang diberikan berisi beras, minyak goreng, gula, teh, kopi, sarden, mi instan, dan sejumlah kebutuhan pangan lainnya.

Ketua Forsiladi Kalimantan Tengah, Prof. Dr. Ir. Juni Gultom, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian para doktor terhadap relawan yang bekerja dalam kondisi terbatas. Mereka harus menghadapi asap, panas, dan medan sulit, sementara kebutuhan logistik serta dukungan kesehatan kerap menjadi tantangan.

“Kami melihat bahwa para relawan non-ASN ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka rela meninggalkan keluarga, bekerja dari pagi hingga malam, bahkan tidur di posko dengan fasilitas seadanya, hanya untuk memadamkan api dan menyelamatkan hutan serta lahan kita,” kata Juni setelah penyerahan bantuan.

Menurut dia, bantuan sembako itu diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan para relawan selama bertugas. Dukungan tersebut sekaligus menjadi bentuk penghargaan kepada mereka yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Relawan Siaga Karhutla Kalteng Non-ASN terdiri atas anggota organisasi kepemudaan, kelompok tani, dan komunitas peduli lingkungan. Mereka bergabung secara sukarela untuk membantu penanganan kebakaran bersama unsur terkait, termasuk BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran, TNI, dan Polri.

Wakil Ketua Forsiladi Kalteng, Dr. Fitria Husnatarina, mengatakan bantuan itu tidak semata-mata berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Menurut dia, dukungan tersebut juga menjadi pesan bahwa para relawan tidak menghadapi situasi sulit itu sendirian.

“Kami berharap aksi ini dapat menginspirasi pihak lain untuk turut mendukung para relawan, baik dalam bentuk logistik, peralatan, maupun dukungan kesehatan dan psikososial. Kami ingin mengirimkan pesan bahwa perjuangan mereka tidak sendiri,” ujar Fitria.

Ia mengatakan Forsiladi tidak hanya ingin berkontribusi melalui bantuan materi. Organisasi tersebut juga membuka peluang untuk mendukung penanganan karhutla melalui layanan kesehatan, edukasi, dan advokasi kebijakan.

Bagi para relawan, bantuan tersebut menjadi penting karena sebagian dari mereka harus meninggalkan pekerjaan sehari-hari demi membantu pemadaman api. Kondisi itu berdampak pada pendapatan keluarga, terutama bagi mereka yang bekerja sebagai petani, pekebun, atau pekerja serabutan.

Rahman, salah seorang relawan, mengatakan sebagian rekannya telah berminggu-minggu tidak bekerja karena memilih bertugas di lapangan.

“Banyak teman-teman relawan yang kesulitan ekonomi karena sudah berminggu-minggu tidak bekerja. Mereka memilih berada di lapangan membantu memadamkan api daripada mencari nafkah. Bantuan sembako dari Forsiladi ini sangat berarti bagi kami,” kata Rahman.

Menurut dia, bantuan tersebut bukan hanya meringankan kebutuhan pangan keluarga relawan, tetapi juga memberikan dorongan moral di tengah tugas pemadaman yang belum selesai.

Setelah menyerahkan bantuan kepada relawan, Forsiladi Kalteng melanjutkan aksi kemanusiaan ke pusat rehabilitasi orangutan BOSF Nyaru Menteng. Di lokasi tersebut, organisasi itu menyalurkan bantuan berupa selimut, handuk, vitamin, suplemen kesehatan, serta kebutuhan logistik bagi tim pemadam kebakaran dan relawan yang bertugas di sekitar kawasan rehabilitasi.

Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung perawatan orangutan sekaligus membantu petugas menghadapi ancaman karhutla di sekitar kawasan konservasi.

Juni Gultom mengatakan kebakaran hutan bukan hanya berdampak terhadap manusia. Satwa liar, termasuk orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), turut menghadapi ancaman akibat kerusakan habitat, berkurangnya sumber makanan, dan paparan asap.

“Orangutan merupakan bagian dari kekayaan hayati Kalimantan yang tidak ternilai. Ketika hutan terbakar, mereka kehilangan rumah, sumber makanan, dan bahkan nyawa. Forsiladi merasa terpanggil untuk hadir, tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk satwa yang menjadi penjaga ekosistem hutan kita,” ujar Juni.

BOSF Nyaru Menteng merupakan pusat rehabilitasi orangutan yang berperan dalam penyelamatan dan perawatan satwa tersebut. Dukungan terhadap lembaga konservasi dinilai penting, terutama ketika kebakaran hutan mengancam habitat alami orangutan dan meningkatkan risiko bagi satwa yang sedang menjalani rehabilitasi.

Forsiladi menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan di lokasi. Selain selimut dan handuk untuk mendukung perawatan orangutan, vitamin dan suplemen diberikan untuk membantu pemeliharaan kesehatan satwa. Bantuan logistik serta kebutuhan tim pemadam juga disalurkan guna menunjang upaya pencegahan dan penanganan kebakaran di sekitar kawasan rehabilitasi.

Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan oleh Wakil Ketua I Forsiladi Kalteng, Dr. Fitria Husnatarina, bersama sejumlah anggota organisasi dari berbagai disiplin ilmu, termasuk bidang lingkungan dan sosial.

Fitria mengatakan kepedulian terhadap orangutan perlu menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga kelestarian hutan Kalimantan. Menurut dia, konservasi tidak dapat hanya dibebankan kepada lembaga penyelamat satwa, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Setiap selimut yang menghangatkan orangutan, setiap vitamin yang membantu menjaga kesehatan mereka, dan setiap dukungan bagi tim relawan merupakan bagian dari upaya mempertahankan kelangsungan hidup spesies yang terancam punah,” kata Fitria.

Ia menambahkan, Forsiladi Kalteng berkomitmen memperkuat dukungan terhadap BOSF dan lembaga konservasi lainnya. Dukungan itu tidak hanya melalui bantuan materi, tetapi juga berpotensi dikembangkan lewat jejaring kerja sama, riset kolaboratif, dan advokasi kebijakan.

Bagi Forsiladi, penanganan karhutla dan penyelamatan orangutan merupakan dua upaya yang saling berkaitan. Perlindungan satwa tidak akan berjalan optimal tanpa menjaga habitatnya, sedangkan kelestarian hutan membutuhkan keterlibatan masyarakat, relawan, lembaga konservasi, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Karena menyelamatkan orangutan adalah menyelamatkan hutan Kalimantan, dan menyelamatkan hutan adalah menyelamatkan paru-paru dunia,” ujar Fitria. (red)

Tinggalkan Balasan