Apresiasi Pembangunan Huma Betang di Palangka Raya
PALANGKA RAYA – Pembangunan Huma Betang di kawasan eks Kantor Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah mulai memasuki tahap konstruksi fisik. Kehadiran bangunan yang merepresentasikan identitas masyarakat Dayak itu mendapat dukungan penuh dari Anggota DPRD Kalteng, Lohing Simon.
Ia menyebut pembangunan Huma Betang sebagai momentum penting untuk memperkuat pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman. Selain menjaga nilai kearifan lokal, bangunan ini diharapkan menjadi ikon baru yang mencerminkan jati diri masyarakat Kalimantan Tengah.
“Pembangunan Huma Betang patut diapresiasi karena seluruh tahapan perencanaan sudah selesai dan kini masuk pekerjaan fisik. DPRD tentu akan memberikan dukungan sesuai kewenangan yang dimiliki,” kata Lohing, Sabtu (25/7/2026).
Lohing menjelaskan, penggunaan kayu ulin sebagai material utama merupakan pilihan tepat. Kayu ulin memiliki keterikatan historis dengan rumah betang tradisional dan dikenal sangat tahan terhadap cuaca sehingga mampu bertahan puluhan tahun.
“Sejak dahulu rumah betang identik dengan kayu ulin, terutama pada tiang dan struktur utama. Material ini memiliki kekuatan dan daya tahan tinggi sehingga cocok untuk bangunan bernilai budaya tinggi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pemanfaatan kayu ulin harus tetap memperhatikan ketentuan perundang-undangan agar pembangunan berjalan berkelanjutan. Dengan ketersediaan bahan yang masih mencukupi, kebutuhan konstruksi diyakini dapat terpenuhi tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan.
Lebih lanjut, Huma Betang diharapkan tidak hanya menjadi bangunan monumental. Bangunan ini juga diproyeksikan sebagai ruang publik untuk kegiatan seni, budaya, dan pendidikan yang dapat memperkuat sektor pariwisata.
“Kehadirannya akan menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Dayak kepada generasi muda dan pengunjung dari luar daerah. Ini adalah aset budaya yang akan menjadi kebanggaan masyarakat Kalteng,” imbuh Lohing.
Ia berharap proses pembangunan berjalan lancar sehingga Huma Betang nantinya mampu menjadi simbol persatuan serta pusat pelestarian budaya Dayak untuk jangka panjang. (Ark)

