Bukan Sekadar Bunga, Kreativitas Jadi Nilai Jual Bisnis Florist Ala Freshflower Everyday
PALANGKA RAYA -Usaha bunga hias menjadi pilihan bisnis yang menjanjikan di tengah kebutuhan masyarakat akan berbagai momen emosional. Namun demikian usaha florist tersebut dituntut tidak hanya menjual bunga, tetapi juga kreativitas.
Begitu disampaikan Owner Toko Bunga Freshflower Everyday, Palangka Raya, Gadis Golden, Jumat (25/9/2026).
Menurut Gadis, sebuah buket disebut kreatif bukan hanya karena bentuknya unik atau menggunakan banyak jenis bunga. Kreativitas terletak pada kemampuan menggabungkan berbagai elemen menjadi satu karya yang berkarakter.
“Buket disebut kreatif bukan hanya karena bentuknya unik. Kreativitas terlihat dari bagaimana kita menggabungkan warna, jenis bunga, bentuk, tekstur, wrapping, dan konsep menjadi satu karya yang memiliki karakter. Yang paling penting adalah buket tersebut bisa menggambarkan pesan atau perasaan dari orang yang memberikannya,” ujarnya.
Dalam menentukan desain, Gadis mengaku aktif mengikuti perkembangan tren melalui Instagram, TikTok, dan Pinterest serta referensi dari florist lain. Namun, tren tidak ditiru secara mentah-mentah.
“Saya melihat tren yang sedang diminati, kemudian menyesuaikannya dengan karakter florist dan kebutuhan pelanggan. Jadi, tren menjadi inspirasi, tetapi tetap harus ada ciri khas dari karya kita sendiri,” katanya.
Ia menilai peran media sosial sangat besar dalam perkembangan usaha florist yang merupakan produk visual. Instagram dan TikTok tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga etalase digital.
“Pengaruhnya sangat besar. Instagram dan TikTok membantu pelanggan melihat hasil karya, gaya desain, kualitas bunga, dan identitas brand kita. Bahkan pelanggan yang awalnya hanya melihat konten bisa akhirnya tertarik untuk memesan,” ungkapnya.
Bagi yang ingin memulai usaha, Gadis menegaskan bisnis florist sangat bisa dimulai dari rumah tanpa harus langsung memiliki toko besar. Sistem pre-order menjadi solusi untuk menyesuaikan stok dengan pesanan.
“Sangat bisa. Justru memulai dari rumah bisa menjadi langkah yang lebih efisien untuk menguji pasar, membangun pelanggan, dan mengembangkan portofolio sebelum memiliki tempat usaha yang lebih besar,” jelasnya.
Terkait selera pelanggan, Gadis melihat saat ini banyak pelanggan yang tidak hanya mencari jenis bunga tertentu, tetapi mencari desain yang sesuai dengan momen.
“Ada yang mencari bunga tertentu, tetapi banyak juga yang sebenarnya mencari hasil akhir atau desain yang sesuai dengan momen dan penerimanya. Misalnya untuk ulang tahun, anniversary, wisuda, ucapan selamat, atau dukacita, kebutuhan desainnya berbeda,” terangnya.
“Karena itu, florist tidak hanya menjual bunga, tetapi juga menjual ide, konsep, dan pengalaman,” sambungnya.
Soal penentuan harga, Gadis menekankan harga sebuah karya tidak bisa dihitung hanya dari harga bunga. Ada banyak komponen yang harus diperhitungkan agar karya tetap bernilai. Diantaranya, mempertimbangkan harga dan jumlah bahan, wrapping, aksesori, tenaga kerja, tingkat kesulitan desain, waktu pengerjaan, serta biaya operasional. Selain itu, juga perlu melihat nilai kreativitas dan kualitas hasil akhirnya.
“Jadi, harga sebuah buket seharusnya bukan sekadar harga bunga ditambah sedikit keuntungan, tetapi harus mencerminkan nilai dari karya dan proses di baliknya,” pungkasnya. (Ark)

