Sungai Surut di Palangka Raya, Tangkapan Ikan Naik Tapi Jangan Overfishing
PALANGKA RAYA – Memasuki musim kemarau, debit sungai di Kota Palangka Raya mengalami penyusutan signifikan. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi aktivitas masyarakat, tetapi juga memunculkan fenomena meningkatnya hasil tangkapan ikan di sejumlah wilayah.
Anggota DPRD Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi, mengatakan surutnya air sungai merupakan siklus tahunan yang membawa tantangan sekaligus “berkah” bagi warga, khususnya pelaku usaha perikanan tangkap.
“Kondisi ini dapat menjadi peluang ekonomi sementara bagi warga yang bergerak di usaha perikanan tangkap. Namun tetap memerlukan intervensi kebijakan agar pemanfaatannya tidak merusak ekosistem perairan dalam jangka panjang,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Syaufwan menjelaskan, saat debit air rendah, ikan cenderung terkonsentrasi di titik-titik yang masih berair. Hal itu membuat ikan lebih mudah ditangkap dan hasil tangkapan meningkat.
“Namun berisiko memicu overfishing atau penangkapan berlebihan. Jadi selain fokus pada hasil ikan, perlu ada mitigasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil tangkapan berlebih bisa langsung dijual segar atau diolah menjadi produk bernilai tambah seperti ikan asin dan kerupuk ikan khas lokal. Bagi warga bantaran sungai, momen ini bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi rumah tangga.
“Peluang ini sifatnya sementara. Warga diharap tidak bergantung penuh pada lonjakan tangkapan ikan sebagai pendapatan tetap tahunan,” pesannya.
DPRD Palangka Raya lanjut Syaufwan, akan terus mendorong pemerintah kota melalui Dinas Perikanan untuk memperketat pengawasan. Fokusnya pada larangan penggunaan alat tangkap yang merusak seperti setrum, racun, dan jaring berukuran terlalu rapat.
Selain itu ia meminta pemerintah gencar melakukan penyuluhan agar nelayan tetap menjaga stok ikan induk, demi keberlanjutan ekosistem.
“Termasuk mendorong program hilirisasi dan bantuan alat pengawetan ikan. Tujuannya agar hasil tangkapan melimpah tidak membusuk saat harga turun,” ungkapnya.
Ia berharap, dengan pengelolaan yang tepat, peningkatan hasil tangkapan saat kemarau bisa menjadi tambahan pendapatan masyarakat sekaligus membantu menjaga ketahanan pangan daerah.
“Manfaatkan momen ini dengan bijak. Pemerintah, masyarakat, dan semua pihak harus bekerja sama agar ekonomi warga terbantu, tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan,” tambahnya.
Terlepas dari berkah hasil tangkapan, Syaufwan juga mengingatkan surutnya sungai berpotensi menimbulkan masalah lain. Di antaranya sulitnya akses transportasi air dan menurunnya kualitas air baku untuk kebutuhan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong adanya koordinasi lintas sektor antara Pemko, BPBD, DLH, dan instansi terkait untuk mengantisipasi dampak lanjutan musim kemarau di Kota Palangka Raya. (Ark)

