Palangka Raya Dikepung Asap Berbahaya, Hujan Diprediksi Akhir Oktober

Palangka Raya Dikepung Asap Berbahaya, Hujan Diprediksi Akhir Oktober
Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masih menyelimuti wilayah Kalimantan Tengah. Foto Ist

PALANGKA RAYA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palangka Raya. Kondisi udara bahkan masuk kategori berbahaya. Sementara musim hujan diprediksi belum akan datang dalam waktu dekat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan wilayah Palangka Raya baru akan memasuki musim hujan sekitar dasarian III Oktober 2026 atau akhir bulan depan.

Berdasarkan pantauan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut pada Kamis (17/9/2026) pukul 13.00 WIB, konsentrasi partikulat PM2.5 di Palangka Raya mencapai 855,1 µg/m³ dan berada pada kategori berbahaya. Pada waktu yang sama, angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan sekitar 11,4 kilometer per jam. Jarak pandang juga hanya sekitar satu kilometer.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Tjilik Riwut, Anton, mengatakan kondisi tersebut tidak lepas dari aktivitas karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Palangka Raya termasuk empat wilayah dengan hotspot relatif tinggi berdasarkan pantauan BMKG sejak Januari 2026.

“Anginnya bergerak dari arah tenggara. Jadi ada potensi dapat kiriman asap dari kabupaten, seperti Pulang Pisau,” ujar Anton.

Selain Palangka Raya, tiga wilayah yang tercatat memiliki hotspot relatif banyak yakni Kabupaten Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, dan Kapuas. Kualitas udara Kota Palangka Raya juga disebut lebih buruk dibandingkan Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, berdasarkan pemantauan sensor PM2.5 BMKG.

Anton menjelaskan, indikator merah menunjukkan kondisi sangat tidak sehat. Sedangkan warna hitam menunjukkan kondisi yang sudah masuk kategori berbahaya.

“Dari pantauan kami PM2.5-nya berwarna merah dan hitam, artinya sangat tidak sehat dan berbahaya jika sudah hitam,” tegasnya.

Kondisi ini menunjukkan kualitas udara masih menjadi persoalan utama bagi masyarakat di tengah aktivitas karhutla dan minimnya hujan.

BMKG juga memprediksi datangnya musim hujan di Kalimantan Tengah berlangsung bertahap, mulai dari wilayah utara kemudian bergeser ke selatan. Khusus Kota Palangka Raya, musim hujan baru masuk sekitar akhir Oktober.

Pantauan BMKG juga menunjukkan sebagian besar wilayah Kalteng masih berpotensi mengalami curah hujan rendah pada Oktober.

Dengan demikian, periode hingga akhir Oktober masih perlu diwaspadai, terutama terhadap perkembangan karhutla dan pergerakan asap. Arah angin menjadi salah satu faktor yang menentukan kondisi udara Palangka Raya, sementara kedatangan hujan diharapkan dapat membantu menekan titik api dan konsentrasi asap. (Ark)

Tinggalkan Balasan