Miris! Kematian Bayi & ASN di Barsel Diduga Akibat Terpapar Asap Karhula

Miris! Kematian Bayi & ASN di Barsel Diduga Akibat Terpapar Asap Karhula
Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr Dadang Baskoro Nugroho. Foto: ist.

BUNTOK – Bayi perempuan berusia 6 bulan 10 hari berinisial BKL dan ASN berisial RD (40) di Kabupaten Barito selatan (Barsel) dilaporkan meninggal dunia, diduga akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di daerah itu.

Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr Dadang Baskoro Nugroho membenarkan peristiwa kematian warga tersebut. Menurutnya kematian korban diakibatkan terkena penyakit paru berat atau pneumonia.

“warga yang meninggal dunia tersebut terkena penyakit pneumonia seiring dengan meningkatnya kabut asap akibat terjadinya karhutla dalam tiga bulan terakhir ini,” katanya saat jumpa pers di Buntok, Jumat (16/10/26).

Dadang menerangkan, untuk warga yang meninggal dunia akibat pneumonia pada Agustus 2026 ada sebanyak tiga orang, kemudian pada September tercatat dua orang dan Oktober ini sebanyak dua orang.

Dikatakannya, untuk warga yang meninggal dunia akibat preumonia pada Oktober ini yakni seorang bayi berusia 6 bulan 10 hari dan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berusia 40 tahun yang mengalami sesak napas setelah pulang kerja dan almarhum sempat mendapat perawatan di RSUD.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, dan foto rontgen memang korban terkena penyakit pneumonia,” imbuh dokter yang saat ini juga menjabat sebagai Plt Direktur RSUD Jaraga Sasameh Buntok.

Kasus pneumonia per bulan sebelumnya rata-rata 42 hingga 61 kasus, sedangkan jumlah pasien yang dirawat di RSUD Jaraga Sasameh Buntok sejak Juli 2026 mengalami peningkatan dan tercatat sebanyak 110 orang, Agustus 114 orang, dan September 136 orang. Sementara di Oktober 2026 ini tercatat 20 orang.

“Dengan demikian, total warga yang dirawat di RSUD Jaraga Sasameh Buntok akibat menderita penyakit pneumonia tersebut sebanyak 724 orang,” ungkap Dadang.

Dengan kondisi kabut asap ini, lanjutnya, sangat rentan terjadinya infeksi paru-paru berat dan salah satu infeksi paru-paru berat itu yakni pneumonia.

Penyakit ini lebih berat dari ISPA, karena gejala ISPA hanya batuk, flu dan pilek saja dan biasanya ditangani puskesmas dan rumah oksigen.

Untuk kasus Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di daerah ini memang mengalami peningkatan sejak Juli hingga saat ini. Hal itu berdasarkan data dari 12 puskesmas yang tersebar di 6 kecamatan di Barito Selatan.

Masyarakat yang terkena ISPA pada Juli 2026 tercatat sebanyak 953 kasus, pada Agustus sebanyak 1.295 kasus, September 1.143 kasus, sedangkan dari awal Oktober hingga saat ini tercatat sebanyak 655 orang.

Dengan kondisi kabut asap dan debu akibat kemarau panjang, sebut Dadang, secara otomatis akan menurunkan daya tahan tubuh dan mudah terserang penyakit ISPA. Apabila kondisinya stabil, cukup berobat rawat jalan di Puskesmas.

“Kalau kondisi penyakitnya berat, maka akan mengalami sesak napas dan biasanya disertai keluhan tensi, gula, dan lainnya. Sehingga pasien harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit,” tukasnya.

Pihaknya menghimbau masyarakat agar menggunakan masker apabila keluar rumah dan tetap menjaga kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi buah-buahan serta sayuran yang cukup. (red)

Tinggalkan Balasan