UPR dan BRIN Berupaya Mencari Solusi agar Kebakaran Gambut Tak Terus Menghantui Kalteng
Palangka Raya – Kebakaran hutan dan lahan yang berulang di Kalimantan Tengah menjadi persoalan lingkungan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Universitas Palangka Raya (UPR) menyatakan siap terlibat dalam upaya mencari solusi melalui penelitian dan pengembangan teknologi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Komitmen itu disampaikan Rektor UPR Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., saat mendampingi kunjungan Kepala BRIN Prof. Arif Satria di Kalimantan Tengah, Sabtu, 7 November 2026. Dalam kunjungan tersebut, BRIN memperkenalkan sejumlah teknologi baru untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gambut.
Bhayu menilai perhatian pemerintah pusat terhadap persoalan karhutla di Kalimantan Tengah merupakan langkah penting. Sebab, karakteristik lahan gambut di wilayah ini membutuhkan pendekatan khusus, baik dalam pencegahan maupun penanganan kebakaran.
Menurut dia, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk ikut memberikan kontribusi melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian yang dapat menjawab persoalan di tengah masyarakat.
“UPR siap mengambil bagian dalam mendukung program pemerintah, terutama dalam mengatasi kebakaran di lahan gambut yang menjadi salah satu karakteristik khas wilayah Kalteng sekaligus bidang yang memiliki keterkaitan dengan keilmuan di UPR,” kata Bhayu.
Ia berharap kunjungan Kepala BRIN tidak hanya menjadi agenda pengenalan teknologi, tetapi juga membuka ruang kerja sama yang lebih erat antara lembaga riset nasional dan perguruan tinggi di daerah.
Bhayu mengatakan, kolaborasi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi UPR untuk mengembangkan penelitian yang relevan dengan kondisi lingkungan Kalimantan Tengah. Hasil riset diharapkan tidak berhenti di ruang akademik, melainkan bisa dimanfaatkan untuk mendukung kebijakan dan langkah nyata pemerintah.
“Kami berharap kunjungan ini tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat berlanjut melalui kerja sama yang lebih intensif antara BRIN dan UPR,” ujarnya.
Dia menambahkan, sinergi antara BRIN dan UPR diharapkan mampu menghasilkan kontribusi nyata dalam menghadapi persoalan karhutla, khususnya kebakaran di kawasan gambut yang selama ini menjadi tantangan bagi Kalimantan Tengah.
Bagi masyarakat, upaya tersebut bukan semata soal pengembangan teknologi. Lebih jauh, penanganan karhutla berkaitan dengan perlindungan lingkungan, kesehatan, dan keberlangsungan kehidupan warga yang kerap terdampak kebakaran serta kabut asap. (red)

